Showing posts with label sabalad. Show all posts
Showing posts with label sabalad. Show all posts

Social Cultivator | Ai Nurhidayat | Kelas Multikultural

Ini jejak digital saat saya diberi kesempatan oleh TEDxJakarta pada tahun 2018. Acara yang digelar di Balai Sarbini Jakarta ini diberi tema Jagad Manusia. Saya hanya bercerita tentang pengalaman yang saya alami dalam membuat Kelas Multikultural dan Kampung Nusantara.

Berikut videonya :

Tentu saja banyak hal yang tidak terceritakan dan banyak juga yang perlu dilengkapi. Tetapi sedikit banyak apa yang disampaikan adalah apa yang sedang diperjuangkan. Semoga Indonesia menjadi lebih keren.

Dilema Kita Kini


Ai Nurhidayat
 Belum lama ini kita mendapatkan fenomena aneh pasca munculnya jenis smartphon. Banyak orang yang berdiam dekat colokan listrik. Tentu saja ini bukan sesuatu yang “wah”. Kita bisa menebak, para pengguna smartphon sedang mengakses internet dengan paket datanya. Dua tahun terakhir nampaknya ini sudah menjadi “budaya” baru. Nongkrong dekat colokan.

Prilaku yang hampir masif menimpa anak-anak, remaja, orang dewasa bahkan yang sebelumnya tak dapat diduga menular ke orang tua hingga kakek-kakek atau nenek-nenek. Tanpa kita sadari, ini adalah pemandangan yang lucu dan tentu saja menyiratkan banyak tanda.

Lucu, sebab kita kerap melihat pemandangan ini di tempat umu yang terkadang muskil. Di terminal, di warung-warung, bahkan ada yang ngecas di mushola. Sekedar ngecas, bulan lagi shalat. Yang gak kalah lucu adalah pada saat mereka mengabaikan manusia lain yang dekat dengannya. 

Munculnya fenomena itu lantaran canggihnya teknologi yang menimpa masyarakat kita. Mau tidak mau kita merasakan dampak langsung, berpindahnya ruang interaksi manusia dari yang muka tatap muka menjadi data ketemu data.

Maka dalam urusan pendidikan pun, kita menemukan ruang interaksi antara pelajar dengan guru menjadi data dengan data. Biaya pendidikannya seharga gadget. Iuran rutinnya harga paket data. Dan ruang kelasnya tak lain adalah colokan atau power bank.
Setiap saat gejala ini bukan menimbulkan rasa bangga lantaran kita bisa merasa lebih canggih. Kita juga, terutama para guru, khawatir. Bagaimana mungkin isi kepala pelajar kita dijejali pesan yang entah apa dan entah siapa yang memproduksinya. Kita tak pernah tahu apakah yang diakses pelajar adalah pesan nyata atau ilusi.

Bagi kita para guru, fenomena ini membingungkan. Kita sadar, banyak guru di sekolah-sekolah sudah tak lagi asyik mendampingi siswa. Malah terkadang guru kian tak update bahasa pergaulan sehari-hari. Kita juga paham banyak guru yang memaksakan kehendak siswa menuruti segala ucapannya di dalam kelas, dan itu tidaklah baik. Akan tetapi, kita akan lebih dikejutkan dengan pesan-pesan asing yang sejak bangun pagi hingga pagi lagi menerpa siswa kita.

Guru, sebagaimana siswanya, adalah seorang pembelajar. Menyikapi persoalan ini hanya bisa berharap pada satu hukum: kesadaran. Sadar pada dunia nyata yang masih ada. Yang oleh karenanya kita masih disebut manusia.

Produk Komunitas Belajar Sabalad

Seberapa banyak manusia berkisah tentang pengalaman di masa lalu, yang ia jalankan kini dan harapannya di masa yang akan datang? Tentu setiap orang berlainan. Selalu ada cara pada saat menceritakannya. Nah, inilah sebagian cara saya untuk membuka ruang belajar dalam memproduksi dan mendistribusikan produk. One Village One Product sudah pasti terlampaui. Untuk merasakannya, anda hanya perlu pesan langsung. 

Gula Kristal Istimewa 




Madu Lebah Liar Alami 




Virgin Coconut Oil  (VCO)




Cek aktivitas keseharian saya : Ai Nurhidayat Mars orang Pangandaran





Menanti Ulang Tahun Kedua Sabalad


Ruang, tak berarti tanpa waktu. Keduanya beriringan membentuk momentum yang khas. Manusia yang berada di dalam keduanya dapat bergerak memanfaatkan momentum itu. Sendiri-sendiri atau bersama. Jika sendiri lebih leluasa, jika bersama sudah pasti menambah peluang bahagia. Pikiran itu yang turut membawa lahirnya Komunitas Belajar Sabalad.

Sabalad mulai digagas sejak 2011 silam. Mulai dipikirkan serius oleh beberapa pegiat di penghujung 2012. Lalu pada awal tahun 2013, tepatnya tanggal 31 Januari, komunitas yang terdiri dari kalangan muda ini mendeklarasikan komunitas. Kini, komunitas yang berada di Dusun Cikubang Desa Cintakarya ini beranjak ke penghujung tahun kedua. Kita semua bahagia.

Pertama, tak sedikit gagasan kolektif mewujud menjadi gerak bersama. Lalu mewujud karya yang dapat dirasakan paling tidak oleh anggota yang terlibat di dalamnya. Karena itu, di penghujung tahun ini kita mesti merencanakan agenda-agenda yang lebih rasional, terukur dan realistis. Sebagai sebuah tongkrongan yang didasari nilai kreativitas, Sabalad mesti mengubah pola di tahun ketiga. Tujuannya, semata berharap mendapat lonjakan baru. Perubahan.

Kedua, sejak 2 tahun silam terdapat banyak hal mesti direfleksikan. Ibarat berkaca di cermin, setiap orang yang nyemplung di dalam komunitas berhenti sejenak menyaksikan wujud atau eksistensi melalui pantulan karya. Apakah semua karya yang dihasilkan merupakan buah keinginan atau semata kekeliruan. Kita tentu berharap momentum refleksi ini membawa kita pada kondisi yang lebih sadar tentang makna berkomunitas.

Ketiga, semboyan yang kerap didengungkan “mencari ilmu selamanya, mencari kawan sebanyak-banyaknya” perlu dipertanggungjawabkan pelaksanaannya. Karena itu perlu kiranya mencari waktu yang pas dan ruang yang disinggahi para anggota sekaligus masyarakat yang terlibat sebagai sebuah pengadilan. Jika jargon sebatas jargon, berarti semua anggota kalah dan bersalah. Jika semboyan mewujud buah-buah karya, berarti harapan kita tahun sebelumnya tercapai. Kita akan sama-sama bahagia.

Perayaan tahun ketiga ini, mesti kita upayakan menjadi kombinasi sempurna antara ruang dan waktu. Kita akan menyambutnya lalu memeriahkannya agar visi dan misi terdengar sempurna.
Akhirnya, kita berharap, semua lapisan warga yang turut peduli pada gagasan ini dan turut bertanggungjawab untuk membuka ruang kreasi agar anak muda mendapat ruang kreasi yang lebih terbuka.


Peradaban, tanggungjawab kita bersama. 

Menyentuh Puncak Belender


Menyentuh Puncak Belender

Perlahan tapi pasti, peristiwa demi peristiwa tersampaikan. Kisah kerusakan lingkungan menempati urutan teratas sebagai peristiwa yang menakutkan. Kini, terdengar sudah berita tentang hutan yang semakin berkurang, pencemaran lingkungan, polusi udara, serta banyak lagi kabar tentang alam yang semakin krisis. Semuanya senada dengan isu global warming.

Di sekitar kita, utamanya di wilayah Kabupaten Pangandaran, kerusakan alam mulai menjadi momok menakutkan. Belakangan tersiar kabar tentang penambangan pasir besi yang meresahkan. Penebangan hutan lindung serta pembalakan liar juga ikut meresahkan. Para petani banyak yang khawatir dengan begitu drastisnya perubahan iklim, ditambah semakin sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak orang ikut tersulut amarah, terutama karena gossip yang melibatkan Serikat Petani Pasundan (SPP).

Organisasi tersebut sering menjadi kambing hitam atas kerusakan di sejumlah hutan. Konon, para petani yang terlibat diorganisir untuk menebang sejumlah hutan dengan istilah reklaiming. Saking intensifnya berita pembalakan hutan itu, tak sedikit yang menganggap bahwa kekeringan bermula dari ulah para petani. SPP, sekali lagi menjadi kambing hitam.

Di Belender, sebuah kawasan hutan yang terletak di desa Kersaratu kecamatan Sidamulih kabupaten Pangandaran, isu reklaiming menjadi bahan obrolan. Hutan yang tadinya terbentang, perlahan dialihfungsikan oleh sejumlah orang. Mereka kemudian menanam pohon kopi sebagai sumber komoditas. Telinga banyak orang yang mendengar kabar demikian semakin panas.

Begitu pula dengan kami. Sejumlah pelajar, mahasiswa, pemuda yang berkumpul dalam wadah komunitas belajar Sabalad merasakan kekhawatiran akan kondisi alam di Belender yang dikabarkan semakin tak jelas. Hanya dengan spirit kepedulian serta rasa ingin tahu, pada tanggal 16-17 Februari 2013 komunitas memutuskan untuk melakukan observasi langsung melalui kegiatan kemping di puncak Belender.

Acara ini diikuti 25 orang anggota komunitas belajar Sabalad. Di luar program taman baca, bimbingan belajar, diskusi ilmiah, literasi media, kegiatan observasi lingkungan menjadi salah satu program utama. Para observer berangkat dini hari dari saung diklat Sabalad di wilayah Parigi. Kemudian konvoi hingga titik pertama. Perjalanan berikutnya ditempuh dengan berjalan kaki mendaki puncak belender. Kami belum begitu mengerti berapa ketinggian puncak Belender sesungguhnya. Yang jelas, perjalanan melewati rute menanjak hingga 85 derajat. Kami tiba setelah melewati 4 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan pemandangan yang tak biasa. Awalnya, perkampungan layaknya di kampung kami. Selanjutnya kami melewati hutan lindung yang sebagian sudah ditanami pohon kapol oleh warga setempat. Setelah itu, sampai di salah satu bukit Belender yang sedah ditanami pohon kopi. Pemandangan alam yang dibatsi eloknya pantai Pangandaran, hingga Batu Karas begitu menyita perhatian. Di puncak itu, hutan sudah mulai tandus, dan pohon-pohon besar tak kelihatan lagi.

Perjalanan berikutnya melewati beberapa rumah milik warga. Kebanyakan dari mereka adalah anggota SPP. Kami melihat bendera SPP di tiap rumah. Sambil disuguhkan pemandangan alam yang agak berbeda, kami memasang tenda di puncak Belender. Setelah itu, kami melaksanakan agenda utama kami, observasi.

Beberapa orang ditugaskan sebagai pencari fakta melalui wawancara langsung dengan para warga. Warga yang juga sebagai petani di Belender begitu terbuka. Mereka tak segan bercerita apa adanya, bahkan rela membagi waktu bersama saat kami mengadakan acara ramah tamah di sekeliling api unggun. Peserta lain, mencatat dan bersiap mementaskan performing art. Kebetulan terdapat anak keturunan para petani yang sedia kami ajak untuk nonton peserta yang berunjuk gigi.

Tanpa diduga, ternyata banyak hal yang kami peroleh saat acara itu berlangsung. Uraian Pak Tomi, seorang petani di sana, menjelaskan asal-usul Belender. Menurutnya, Belender adalah perkampungan adat yang karena peristiwa politik tahun 1940an, tanah itu dikosongkan. Kemudian Perum Perhutani mengambil alih hutan adat itu menjadi wilayah Perum dan menanaminya. Kemudian, setelah reformasi, warga Belender kembali memperjuangkan tanahnya melalui aksi reclaiming hutan adat mereka.

Pak Tomi dengan apik menunjukan batas-batas antara hutan adat, hutan lindung, pangangonan, hutan perum dan sejumlah tanah yang menjadi hak guna oleh perusahaan/perorangan. Bahkan dia menunjukan bukti-bukti fisik yang menguatkan Blender sebagai hutan adat, diantaranya terdapat kuburan (astana) dan pohon-pohon yang pernah ditanam warga layaknya di kampung-kampung.

Pada akhirnya, dengan penuturan warga Belender, kami semua dapat informasi lain yang berbeda dengan gossip yang selama ini menyebar di masyarakat. Pembalakan liar, pelenyapan hutan lindung yang menjadi sumber air, hingga dongeng kebrutalan petani SPP, tersanggah sudah. Malah sebaliknya, kami menemukan sebuah cerita yang tersimpan di balik puncak Belender: perjuangan 16 keluarga meraih penghidupan dengan jalan yang legal, tetap hormat pada alam, dan tentu saja ramah pada setiap orang.

Menyentuh puncak Belender kami melihat realitas dari dekat lalu mencoba bersatu dengan lingkungan. Setelah itu kami ikut mengabarkan.
Komunitas Belajar Sabalad