Showing posts with label ai nurhidayat. Show all posts
Showing posts with label ai nurhidayat. Show all posts

Sekitar “Santan”

 

oleh Ai Nurhidayat

Bagi warga Masyarakat Pangandaran, kelapa memiliki peran penting di dalam kehidupan. Keberadaan pohon kelapa bukan sekedar memenuhi seluruh pandangan setiap orang yang berkeliling di Pangandaran. Lebih dari itu, kelapa menunjukan makna yang lain, mulai dari filsafat, ilmu pengetahuan, ekonomi, kepercayaan, dan aspek kebudayaan lain.

Hampir semua unsur kehidupan warga berkaitan dengan kelapa. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan pohon kelapa yang hampir ada di pekarangan rumah dan kebun yang dimiliki setiap keluarga. Kelapa Adalah pohon paling bersahabat dengan seluruh anggota keluarga, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan lansia. Keberadaan produk turunan kelapa ada pada hampir semua unsur bangunan, peralatan, pangan, hingga dekorasi. Pada sejumlah ritual, kelapa selalu hadir dalam bentuk sesajen perlambang bumi, maupun varian masakan yang melambangkan kekayaan jenis pangan.



Social Cultivator | Ai Nurhidayat | Kelas Multikultural

Ini jejak digital saat saya diberi kesempatan oleh TEDxJakarta pada tahun 2018. Acara yang digelar di Balai Sarbini Jakarta ini diberi tema Jagad Manusia. Saya hanya bercerita tentang pengalaman yang saya alami dalam membuat Kelas Multikultural dan Kampung Nusantara.

Berikut videonya :

Tentu saja banyak hal yang tidak terceritakan dan banyak juga yang perlu dilengkapi. Tetapi sedikit banyak apa yang disampaikan adalah apa yang sedang diperjuangkan. Semoga Indonesia menjadi lebih keren.

Dilema Kita Kini


Ai Nurhidayat
 Belum lama ini kita mendapatkan fenomena aneh pasca munculnya jenis smartphon. Banyak orang yang berdiam dekat colokan listrik. Tentu saja ini bukan sesuatu yang “wah”. Kita bisa menebak, para pengguna smartphon sedang mengakses internet dengan paket datanya. Dua tahun terakhir nampaknya ini sudah menjadi “budaya” baru. Nongkrong dekat colokan.

Prilaku yang hampir masif menimpa anak-anak, remaja, orang dewasa bahkan yang sebelumnya tak dapat diduga menular ke orang tua hingga kakek-kakek atau nenek-nenek. Tanpa kita sadari, ini adalah pemandangan yang lucu dan tentu saja menyiratkan banyak tanda.

Lucu, sebab kita kerap melihat pemandangan ini di tempat umu yang terkadang muskil. Di terminal, di warung-warung, bahkan ada yang ngecas di mushola. Sekedar ngecas, bulan lagi shalat. Yang gak kalah lucu adalah pada saat mereka mengabaikan manusia lain yang dekat dengannya. 

Munculnya fenomena itu lantaran canggihnya teknologi yang menimpa masyarakat kita. Mau tidak mau kita merasakan dampak langsung, berpindahnya ruang interaksi manusia dari yang muka tatap muka menjadi data ketemu data.

Maka dalam urusan pendidikan pun, kita menemukan ruang interaksi antara pelajar dengan guru menjadi data dengan data. Biaya pendidikannya seharga gadget. Iuran rutinnya harga paket data. Dan ruang kelasnya tak lain adalah colokan atau power bank.
Setiap saat gejala ini bukan menimbulkan rasa bangga lantaran kita bisa merasa lebih canggih. Kita juga, terutama para guru, khawatir. Bagaimana mungkin isi kepala pelajar kita dijejali pesan yang entah apa dan entah siapa yang memproduksinya. Kita tak pernah tahu apakah yang diakses pelajar adalah pesan nyata atau ilusi.

Bagi kita para guru, fenomena ini membingungkan. Kita sadar, banyak guru di sekolah-sekolah sudah tak lagi asyik mendampingi siswa. Malah terkadang guru kian tak update bahasa pergaulan sehari-hari. Kita juga paham banyak guru yang memaksakan kehendak siswa menuruti segala ucapannya di dalam kelas, dan itu tidaklah baik. Akan tetapi, kita akan lebih dikejutkan dengan pesan-pesan asing yang sejak bangun pagi hingga pagi lagi menerpa siswa kita.

Guru, sebagaimana siswanya, adalah seorang pembelajar. Menyikapi persoalan ini hanya bisa berharap pada satu hukum: kesadaran. Sadar pada dunia nyata yang masih ada. Yang oleh karenanya kita masih disebut manusia.

Refleksi Hari Guru dan APBD yang Anti-partisipatif


Guru dan Pamrih

Dunia selalu menyimpan peristiwa kebetulan. Di sebuah tempat yang dipenuhi pohon jambu, aku mendengar seorang kawan mendeskripsikan sebuah kata istimewa, terlebih bagi para guru : pamrih.
Katanya begini. Jika anda mencuci piring lantaran ada piring kotor, itu sebuah hal yang pamrih. Jika anda mencuci piring karena hobi, itu bukan pamrih. Cara mengujinya gampang, beri aja piring kotor semobil truk, akan ketahuan mana yang menjalani dengan suka cita.
Di momentum yang spesial ini, hari guru, aku merasakan banyak hal yang perlu koreksi. Aku baru dua tahun menjadi guru. Setahun lebih terlibat dalam pengelolaan sekolah tingkat menengah. Motivasiku jadi guru selama ini ternyata keliru.
Pertama, aku menjadi guru yang padahal bukan cita-citaku bermula dari kekesalanku pada sekolah yang sudah ada di daerahku. Ribuan lulusan setiap tahun begitu-begitu saja. Selalu yang terjadi pengangguran dan rendah minat melanjutkan. Karena itu tekadku mengintervensi untuk mengubah. Aku salah.
Kedua, aku mau menggunakan waktuku menjadi guru lantaran kesal dengan sistem belajar yang menindas di sekolah-sekolah. Bagaimana tidak, siswa diberlakukan seperti bebek yang hanya diperintah menginduk, bukan pada gurunya, melainkab pada teks LKS atau buku mata pelajaran. Padahal pendidikan lebih dari itu. Pendidikan adalah upaya merawat benih yang sudah tumbuh, bukan memaksanya menelan materi aja berupa teks. Kehidupan manusia lebih luas dari hanya sekedar mengikuti buku. Untuk alasan kedua ini pun, aku keliru.
Ketiga, aku terlibat di sekolah sebagai guru karena ada keliru managemen atau gagal tata kelola dimana pada saat itu aku tergerak menyelesaikannya dengan harapan sekolah bisa maju. Alasan ketiga itu pun aku keliru. Aku masih terkategori pamrih.
Seharunya aku mengajar karena hobi, karena cinta, karena enjoy menjalaninya. Jadi sehebat apapun persoalan yang dihadapi tak membuatku surut mengajar. Pun jika tak ada masalah lagi aku akan tetap mengajar. Walau tanpa ada gaji, tanpa jaminan pensiun, tanpa asuransi, tanpa uang-uang jenis lain.
Hari guru mengingatkanku pada pesan itu. Sebuah perenungan yang memaksaku kembali melihat ketulusan hati pada pendidikan.
Hak atas Pendidikan
Menjadi Kepala Program sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kerjasama dan Pengembangan di sebuah sekolah menyeretku pada persoalan yang tak bisa ditinggal, yaitu hak manusia atas pendidikan.
Pendidikan menjadi kebutuhan dasar yang tak bisa dihalang-halangi. Konstitusi kita menjamin itu dalam preambul UUD 1945. Hak atas pendidikan ini perlu diberikan pada manusia Indonesia agar tercipta kehidupan bangsa yang cerdas. Tetapi betulkah pemerintah telah memenuhinya secara adil?
Belum. Negara yang mestinya hadir memastikan pemenuhan ini ternyata absen. Pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten tak mampu hadir membagi keadilan.
Aku agak berat mengatakan ini, khawatir ada pihak yang tersinggung. Tetapi apa boleh dikata, alam pikir tak bisa dipendam dalam senyap. Kejadian bertepatan dengan hari guru yang diberitakan KP (25/11) dimana para pejabat bolos sidang paripurna dengan alasan sibuk menata anggaran agar terserap membuka banyak pertanyaan. Apakah penyerapan itu berdasar pada partisipasi atau tidak.
Sebagai pengelola sekolah, aku tak pernah merasakan ada survei kebutuhan atau menanyakan upaya memperbaiki kualitas pendidikan dari dinas (Disdikbudpora). Absennya upaya itu tak bisa masuk dalam pikiran mengingat dana 70% APBD harus dibelanjakan oleh instansi ini.
Bagaimana mereka menyusun program wong tanya pada sekolah saja tidak. Katanya pemerintah memahami keadilan, biarpun sekolah kecil, tetap kita meragukan pemahaman itu.
Ada setumpuk penjelasan manakala ini diperlukan. Tetapi aku hanya sebatas menunjukan bahwa selama ini, kita patut menduga, bahwa kegiatan pelaksanaan APBD minim partisipasi. Atau bahkan anti-partisipatif jika hanya memainkan logika penganggaran melalui asumsi.
Benar demikian atau tidak, pihak terkait harus membuktikannya ke publik.

Produk Komunitas Belajar Sabalad

Seberapa banyak manusia berkisah tentang pengalaman di masa lalu, yang ia jalankan kini dan harapannya di masa yang akan datang? Tentu setiap orang berlainan. Selalu ada cara pada saat menceritakannya. Nah, inilah sebagian cara saya untuk membuka ruang belajar dalam memproduksi dan mendistribusikan produk. One Village One Product sudah pasti terlampaui. Untuk merasakannya, anda hanya perlu pesan langsung. 

Gula Kristal Istimewa 




Madu Lebah Liar Alami 




Virgin Coconut Oil  (VCO)




Cek aktivitas keseharian saya : Ai Nurhidayat Mars orang Pangandaran