Showing posts with label parigi. Show all posts
Showing posts with label parigi. Show all posts

Sekitar “Santan”

 

oleh Ai Nurhidayat

Bagi warga Masyarakat Pangandaran, kelapa memiliki peran penting di dalam kehidupan. Keberadaan pohon kelapa bukan sekedar memenuhi seluruh pandangan setiap orang yang berkeliling di Pangandaran. Lebih dari itu, kelapa menunjukan makna yang lain, mulai dari filsafat, ilmu pengetahuan, ekonomi, kepercayaan, dan aspek kebudayaan lain.

Hampir semua unsur kehidupan warga berkaitan dengan kelapa. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan pohon kelapa yang hampir ada di pekarangan rumah dan kebun yang dimiliki setiap keluarga. Kelapa Adalah pohon paling bersahabat dengan seluruh anggota keluarga, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan lansia. Keberadaan produk turunan kelapa ada pada hampir semua unsur bangunan, peralatan, pangan, hingga dekorasi. Pada sejumlah ritual, kelapa selalu hadir dalam bentuk sesajen perlambang bumi, maupun varian masakan yang melambangkan kekayaan jenis pangan.



Dayat

Dayat

Ada banyak Dayat. Dayat satu ini adalah seorang pengurus mesjid sebuah tajug kecil di sebuah blok seluas RT di tengah dusun Cikubang yang disebut Karangtengah. Sebelum berkisah tentang Dayat, mari telusuri asal-usul kampung ini.

Karangtengah menurut warga setempat bermula dari sebuah mumuntuk, bukit kapur karang yang jika Kampung Cikubang banjir, yang tidak terendam hanya mumuntuk itu. Bukit itu kecil, terkenal angker dan mengandung surupan air. Tempat mukim ikan seperti lele, udang, betok, sepat dan jenis ikan lain.

Bah Kidik, seorang warga yang meninggal di akhir abad lalu, mengusulkan Karangtengah diganti dengan Sukamaju. Usulan Bah Kidik diterima begitu saja lantaran sosok tua berambut putih itu seorang pertapa yang bagi sebagian penduduk menjadi tempat bertanya. Orang sekarang mungkin akan menyebutnya dukun. Entah terawangan apa yang mendorong Bah Kidik mengubah nama tempat ini menjadi Sukamaju. Sejumlah warga mengamini saja dengan harapan kampung ini benar-benar menyukai kemajuan.

Belakangan ramalan Bah Kidik benar. Setelah ada siswa dari berbagai wilayah Nusantara belajar dan tinggal di kampung itu, Sukamaju menjadi tempat yang didatangi banyak orang. Sejak tahun 2018, kampung itu memiliki sebutan baru, yaitu Kampung Nusantara. Sejak saat itu pula, tajuk yang dijadikan tempat ibadah warga itu berganti nama menjadi Mesjid Istiqlal. 

Sebagai pengurus mesjid, Dayat sering menjadi imam mesjid, muadzin, dan menabuh beduk, tukang sapu. Imam mesjid sebenarnya adalah Mang Apan, pengurus DKM di mesjid jami' atau mesjid yang sering digunakan Jumatan. Muadzin sebenarnya juga adalah Ki Ating yang sejak janari atau sebelum subuh sering melantunkan pupujian. Dayat menjadi serep imam dan muadzin manakala Mang Apan dan Ki Ating absen.

Di luar waktu shalat, Dayat adalah seorang pembimbing asrama. Setelah subuh, sosoknya akan dijumpai di dapur asrama bersama siswa yang piket untuk menanak nasi. Nasi ini menjadi makanan pokok yang akan dihidangkan untuk sarapan pagi dan makan siang siswa asrama dan keluarganya. Sekitar 60 porsi untuk sekali makan.  

Untuk makan malam, Dayat kembali memasak bersama siswa yang sudah terjadwal piket seminggu sekali. Sebagai pembimbing asrama, Dayat juga mengurusi sejumlah lahan yang hasil produksinya digunakan untuk kebutuhan lauk yang akan disantap siswa asrama. Sayuran, ubi-ubian, buah-buahan, ikan, dan padi yang ditanam dan dipelihara ini berada di 9 titik lahan miliknya dan sebagian lahan milik yayasan.

Untuk mengurusi lahan yang tersebar di beberapa desa itu, sekali waktu Dayat dibantu oleh siswa. Termasuk untuk belanja ampas tahu, memberi makan ikan, menyiapkan lahan tanam, daut,
tandur, ngarambet, panen padi, jemur padi hingga padi siap disimpan.

Setiap Sabtu, atau waktu-waktu terjadwal di sekolah, Dayat menjadi pemandu sekolah lapang. Pengalamannya dalam mengelola lahan secara ekologis sangat berguna untuk membantu siswa memahami praktik pertanian yang berkelanjutan.

Apa sesungguhnya latar belakang Dayat? Sebentar. Kita lihat dulu aktivitasnya yang lain.

Selembar Kabar tentang Kelas Multikultural Angkatan 2016



Saya adalah bagian kecil di balik sebuah komunitas yang ngotot menyelenggarakan pendidikan multikultural melalui SMK Bakti Karya Parigi. Konsep utamanya adalah hadirnya siswa dari berlatar belakang budaya (suku, etnik, agama dan daerah) untuk belajar bersama selama 3 tahun.

Harapannya, siswa dapat melewati pengalaman berdasar prinsip multikulturalisme : Terbuka pada keberagaman, merayakan keberagaman, memberi tempat  dan melindungi keberagaman.

Kami memulai mimpi ini dengan modal sekolah yang baru dialihpengurusan, lalu melibatkan anggota komunitas untuk menjadi guru. Kami lebih enjoy menyebutnya sebagai fasilitator.

Awalnya kami berencana melibatkan setidaknya 25 siswa dari 25 kabupaten/kota berbeda. Harapannya bisa ada pertukaran pengetahuan lokal dari para siswa sekaligus membuat jejaring pengalaman baru.

Rencana kami bergeser. Dari modal kampanye di media sosial dan telpon sana sini, rupanya siswa yang ikut hanya dari 8 kabupaten dari 6 provinsi. Tetapi jumlahnya mencapai 42 siswa. Bahkan yang mengejutkan adalah hadirnya 20 siswa dari Aceh, Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, Maluku dan NTT.

Latar belakang kedaerahan itu secara otomatis menghadirkan keragaman baru. Ada siswa dari latar belakang agama yang berbeda. Walau sempat terjadi fitnah terkait isu SARA, beruntung kita masih bisa meyakinkan publik bahwa kehadiran siswa tidak berarti menggoyahkan kepercayaan masyarakat dimana sekolah ini dilaksanakan. Pihak pemerintah, pihak keamanan dan para pemangku agama dari level kampung sampai kabupaten turut mendukung.

Program ini memang tidak selalu mulus berjalan. Kami harus memulangkan 1 siswa dan memberhentikan 2 siswa yang belum siap menempuh pembelajaran. Akan tetapi, keterlibatan siswa pada berbagai kegiatan cukup membanggakan. Kami sebagai fasilitator semakin yakin bahwa program ini akan menghasilkan  pengalaman yang berharga kelak.

Tentu saja kami didukung 80 donatur yang secara sukarela menjadi kakak asuh dan menyumbangkan materinya melalui mekanisme online. Kami sengaja membuatnya online agar semua orang dapat dengan mudah mengakses dan semakin mempermudah publik untuk terlibat.

Tak kurang 30 kalangan profesional yang terlibat dalam Kelas Profesi yang kami buka setiap hari Sabtu untuk mengenalkan siswa pada berbagai profesi.

Dengan asrama yang masih belum direhab dan biaya dapur umum yang masih nombok, kami tak akan patah semangat. Tahun ini kami akan tetap membuka pendaftaran untuk peserta angkatan 2017. Targetnya sederhana, hanya menghadirkan 50 siswa dari 50 daerah di Indonesia.



Akan tetapi karena sampai detik ini belum ada pihak yang ingin terlibat menjadi sponsor program, kami terpaksa membebankan tiket perjalanan di luar penjemputan kepada siswa. Kami baru bisa menyubsidi makan minum siswa. Angkatan baru ini cukup membayar biaya makan 10.000.- setiap hari untuk 3 kali makan mereka.

Tetapi siswa angkatan 2016 semuanya tetap dalam jaminan dan seluruhnya digratiskan. Bahkan tiket pesawat mereka (dari luar pulau) menjadi tanggungan lembaga. Kami sangat berterima kasih pada anda yang telah membantu mengganti tiket pesawat dan akomodasi via www.kitabisa.com.

Kali ini, dengan semangat optimis kami akan membuka kembali pendaftaran secara online pada 21 April 2017, tepat di hari Kartini. Semoga semangat menerangi membawa bangsa ini pada masa depan yang harmonis dan gemilang.

Anda - sahabat dan rekan saya - atau yang belum mengenal saya, adalah penentu penting perjuangan memperkenalkan pendidikan multikultur ini. Karena itu, apapun partisipasi anda sangat kami harapkan.

Semoga Tuhan yang maha kuasa menetapkan hati kita dalam tindakan ikhlas berjuang.

Salam,
Ai Nurhidayat

Refleksi Hari Guru dan APBD yang Anti-partisipatif


Guru dan Pamrih

Dunia selalu menyimpan peristiwa kebetulan. Di sebuah tempat yang dipenuhi pohon jambu, aku mendengar seorang kawan mendeskripsikan sebuah kata istimewa, terlebih bagi para guru : pamrih.
Katanya begini. Jika anda mencuci piring lantaran ada piring kotor, itu sebuah hal yang pamrih. Jika anda mencuci piring karena hobi, itu bukan pamrih. Cara mengujinya gampang, beri aja piring kotor semobil truk, akan ketahuan mana yang menjalani dengan suka cita.
Di momentum yang spesial ini, hari guru, aku merasakan banyak hal yang perlu koreksi. Aku baru dua tahun menjadi guru. Setahun lebih terlibat dalam pengelolaan sekolah tingkat menengah. Motivasiku jadi guru selama ini ternyata keliru.
Pertama, aku menjadi guru yang padahal bukan cita-citaku bermula dari kekesalanku pada sekolah yang sudah ada di daerahku. Ribuan lulusan setiap tahun begitu-begitu saja. Selalu yang terjadi pengangguran dan rendah minat melanjutkan. Karena itu tekadku mengintervensi untuk mengubah. Aku salah.
Kedua, aku mau menggunakan waktuku menjadi guru lantaran kesal dengan sistem belajar yang menindas di sekolah-sekolah. Bagaimana tidak, siswa diberlakukan seperti bebek yang hanya diperintah menginduk, bukan pada gurunya, melainkab pada teks LKS atau buku mata pelajaran. Padahal pendidikan lebih dari itu. Pendidikan adalah upaya merawat benih yang sudah tumbuh, bukan memaksanya menelan materi aja berupa teks. Kehidupan manusia lebih luas dari hanya sekedar mengikuti buku. Untuk alasan kedua ini pun, aku keliru.
Ketiga, aku terlibat di sekolah sebagai guru karena ada keliru managemen atau gagal tata kelola dimana pada saat itu aku tergerak menyelesaikannya dengan harapan sekolah bisa maju. Alasan ketiga itu pun aku keliru. Aku masih terkategori pamrih.
Seharunya aku mengajar karena hobi, karena cinta, karena enjoy menjalaninya. Jadi sehebat apapun persoalan yang dihadapi tak membuatku surut mengajar. Pun jika tak ada masalah lagi aku akan tetap mengajar. Walau tanpa ada gaji, tanpa jaminan pensiun, tanpa asuransi, tanpa uang-uang jenis lain.
Hari guru mengingatkanku pada pesan itu. Sebuah perenungan yang memaksaku kembali melihat ketulusan hati pada pendidikan.
Hak atas Pendidikan
Menjadi Kepala Program sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kerjasama dan Pengembangan di sebuah sekolah menyeretku pada persoalan yang tak bisa ditinggal, yaitu hak manusia atas pendidikan.
Pendidikan menjadi kebutuhan dasar yang tak bisa dihalang-halangi. Konstitusi kita menjamin itu dalam preambul UUD 1945. Hak atas pendidikan ini perlu diberikan pada manusia Indonesia agar tercipta kehidupan bangsa yang cerdas. Tetapi betulkah pemerintah telah memenuhinya secara adil?
Belum. Negara yang mestinya hadir memastikan pemenuhan ini ternyata absen. Pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten tak mampu hadir membagi keadilan.
Aku agak berat mengatakan ini, khawatir ada pihak yang tersinggung. Tetapi apa boleh dikata, alam pikir tak bisa dipendam dalam senyap. Kejadian bertepatan dengan hari guru yang diberitakan KP (25/11) dimana para pejabat bolos sidang paripurna dengan alasan sibuk menata anggaran agar terserap membuka banyak pertanyaan. Apakah penyerapan itu berdasar pada partisipasi atau tidak.
Sebagai pengelola sekolah, aku tak pernah merasakan ada survei kebutuhan atau menanyakan upaya memperbaiki kualitas pendidikan dari dinas (Disdikbudpora). Absennya upaya itu tak bisa masuk dalam pikiran mengingat dana 70% APBD harus dibelanjakan oleh instansi ini.
Bagaimana mereka menyusun program wong tanya pada sekolah saja tidak. Katanya pemerintah memahami keadilan, biarpun sekolah kecil, tetap kita meragukan pemahaman itu.
Ada setumpuk penjelasan manakala ini diperlukan. Tetapi aku hanya sebatas menunjukan bahwa selama ini, kita patut menduga, bahwa kegiatan pelaksanaan APBD minim partisipasi. Atau bahkan anti-partisipatif jika hanya memainkan logika penganggaran melalui asumsi.
Benar demikian atau tidak, pihak terkait harus membuktikannya ke publik.

Produk Komunitas Belajar Sabalad

Seberapa banyak manusia berkisah tentang pengalaman di masa lalu, yang ia jalankan kini dan harapannya di masa yang akan datang? Tentu setiap orang berlainan. Selalu ada cara pada saat menceritakannya. Nah, inilah sebagian cara saya untuk membuka ruang belajar dalam memproduksi dan mendistribusikan produk. One Village One Product sudah pasti terlampaui. Untuk merasakannya, anda hanya perlu pesan langsung. 

Gula Kristal Istimewa 




Madu Lebah Liar Alami 




Virgin Coconut Oil  (VCO)




Cek aktivitas keseharian saya : Ai Nurhidayat Mars orang Pangandaran