Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

KKN SEPANJANG TAHUN

KKN SEPANJANG TAHUN

Jika kampung rame kalau ada mahasiswa KKN, itu artinya masyarakat di desa butuh orang-orang muda terdidik yang mau hidup di desa.

Kalo sekolah rame karena ada yang KKN, itu artinya sekolah lebih butuh banyak didampingi orang baru.

Sedari dulu saya mengusulkan KKN dibuat sepanjang tahun, bukan hanya pas Agustusan saja. Biar kampus yang harusnya menjalankan Tri Dharma ada gunanya.


Diskriminasi di Sekolah


Tempo hari saya sempat kaget mendengar kawan yang bercerita tentang keadaan yang dialaminya. Saudara kandung dan seorang sepupunya masuk di sekolah ternama. Di kawasan itu, kualitas sekolah memang tidak diragukan. Tetapi pada hal pembiayaan, membuat orang tua beserta kakak-kakaknya tercekik. Ringkasnya, biaya sekolah terlalu mahal.
Ada memang beasiswa berupa potongan harga bagi orang yang super jenius dan atau tidak mampu. Tetapi seleksi kemampuan dan seleksi administratif paling mungkin dilewati beberapa orang saja yang punya kemampuan di bidang yang diujikan.

Awalnya saya hanya menanggapi dengan santai mengingat fenomena sekolah bagus dan mahal di mata masyarakat menjadi hal wajar. Sejak dahulu saya sekolah, saya menganggap hal itu bukan masalah besar. Sebuah konsekuensi yang logis. Jika sekolah ingin bagus, fasilitas harus bagus dan butuh biaya besar untuk membelinya. Guru harus dibayar mahal agar dapat mengajar dengan serius dan fokus tanpa harus memikirkan 'dapur'nya. Layanan pendidikan harus dibiayai besar agar memenuhi standar operasional. Dan seterusnya.
Tidak dengan sekarang.

Bagi saya sekolah mahal saja sudah bagian dari diskriminasi. Apalagi ada beasiswa bagi sebagian siswa, itu juga diskriminasi. Dimana letak diskriminasi yang dimaksud?
Sekolah memang membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan operasional, pemenuhan kesejahteraan guru dan menyediakan layanan. Tetapi mahalnya sekolah seharusnya tidak diarahkan kepada orang tua siswa. Ya, pendidikan adalah tanggungjawab orang tua, masyarakat dan pemerintah (pusat dan daerah). Akan tetapi membuat aturan pembiayaan yang besar dapat menutup akses sebagian orang tua yang pendapatan tiap harinya saja menghawatirkan.
Argumen sederhana ini layak dipikirkan ulang oleh para pemerhati pendidikan. Biaya sekolah yang mahal dan rata adalah penghinaan bagi fakta masyarakat yang penghasilannya berbeda-beda. Tidak semua pekerjaan dibayar sama dan mahal seperti PNS atau pegawai yang posisinya sudah level atas. Penghasilan berbeda-beda itu justru seharusnya menjadi alasan kuat agar sekolah tidak berbuat angkuh dengan standarnya sendiri.

Fakta kemiskinan sudah seharusnya menjadi pertimbangan juga kenapa sekolah harusnya tidak menerapkan biaya yang mahal. Mahal adalah angka relatif yang hanya bisa dirasakan oleh 'pembeli'. Tetapi di alam yang masih ada laut ini, orang yang berpenghasilan setara $2 saja jumlahnya banyak. Ditambah status yang hampir miskin, di atas $2 tetapi masih belum aman. Tentu kita tak bisa berkelit lagi. Biaya sekolah mahal sudah pasti diskriminatif bagi mereka yang penghasilannya tak banyak.
Begitu juga dengan sekolah yang memberlakukan beasiswa bagi sebagian siswanya. Ditambah dengan seleksi yang hanya bisa ditembus beberapa orang saja. Sementara siswa lain harus membayar. Bagi saya hal itu diskriminatif dan melecehkan latar belakang siswa.
Bukankah kita sadar potensi dari setiap siswa berbeda-beda? Karena beda, tentu saja siswa yang bakatnya berbeda tidak bisa dinilai dengan soal yang sama. Apalagi untuk memberinya beasiswa. Kok bisa?
Bersambung...

Dilema Kita Kini


Ai Nurhidayat
 Belum lama ini kita mendapatkan fenomena aneh pasca munculnya jenis smartphon. Banyak orang yang berdiam dekat colokan listrik. Tentu saja ini bukan sesuatu yang “wah”. Kita bisa menebak, para pengguna smartphon sedang mengakses internet dengan paket datanya. Dua tahun terakhir nampaknya ini sudah menjadi “budaya” baru. Nongkrong dekat colokan.

Prilaku yang hampir masif menimpa anak-anak, remaja, orang dewasa bahkan yang sebelumnya tak dapat diduga menular ke orang tua hingga kakek-kakek atau nenek-nenek. Tanpa kita sadari, ini adalah pemandangan yang lucu dan tentu saja menyiratkan banyak tanda.

Lucu, sebab kita kerap melihat pemandangan ini di tempat umu yang terkadang muskil. Di terminal, di warung-warung, bahkan ada yang ngecas di mushola. Sekedar ngecas, bulan lagi shalat. Yang gak kalah lucu adalah pada saat mereka mengabaikan manusia lain yang dekat dengannya. 

Munculnya fenomena itu lantaran canggihnya teknologi yang menimpa masyarakat kita. Mau tidak mau kita merasakan dampak langsung, berpindahnya ruang interaksi manusia dari yang muka tatap muka menjadi data ketemu data.

Maka dalam urusan pendidikan pun, kita menemukan ruang interaksi antara pelajar dengan guru menjadi data dengan data. Biaya pendidikannya seharga gadget. Iuran rutinnya harga paket data. Dan ruang kelasnya tak lain adalah colokan atau power bank.
Setiap saat gejala ini bukan menimbulkan rasa bangga lantaran kita bisa merasa lebih canggih. Kita juga, terutama para guru, khawatir. Bagaimana mungkin isi kepala pelajar kita dijejali pesan yang entah apa dan entah siapa yang memproduksinya. Kita tak pernah tahu apakah yang diakses pelajar adalah pesan nyata atau ilusi.

Bagi kita para guru, fenomena ini membingungkan. Kita sadar, banyak guru di sekolah-sekolah sudah tak lagi asyik mendampingi siswa. Malah terkadang guru kian tak update bahasa pergaulan sehari-hari. Kita juga paham banyak guru yang memaksakan kehendak siswa menuruti segala ucapannya di dalam kelas, dan itu tidaklah baik. Akan tetapi, kita akan lebih dikejutkan dengan pesan-pesan asing yang sejak bangun pagi hingga pagi lagi menerpa siswa kita.

Guru, sebagaimana siswanya, adalah seorang pembelajar. Menyikapi persoalan ini hanya bisa berharap pada satu hukum: kesadaran. Sadar pada dunia nyata yang masih ada. Yang oleh karenanya kita masih disebut manusia.

Pertanyaan?

Pertanyaan?
Ada pertanyaan menarik yang dilontarkan seorang penyeleksi beasiswa kepada saya tiga tahun silam. “siapa anda?” dan “20 tahun lagi, ada dimana anda? Bagaimana masyarakat menilai anda saat itu? Apa yang sedang anda lakukan dan kontribusi apa yang sudah anda lakukan bagi masyarakat anda saat itu?

Kedua pertanyaan itu lebih berat saya jawab ketimbang pertanyaan lain yang sempat dialami sewaktu ujian nasional. Memang, dari segi panjang pendeknya kata, relatif mudah dipahami. Tetapi tidak untuk menjawabnya, sebab pertanyaan itu terkait diri dan kesiapan-kesiapan diri saya sendiri.

Jika dalam ujian nasional atau tes-tes lain di sela sekolah dan universitas bisa dijawab dengan mengopy uraian dalam buku panduan manual, maka pertanyaan tadi amat berbeda. Cukup asing dan tak pernah muncul sebelumnya dalam materi yang diajarkan. Untuk memulai menjawab, perlu improvisasi diri.

Saat itu saya hanya menjawab, saya adalah manusia bebas yang sedang menikmati masa tumbuh. Tentu jawaban tadi tidak terlalu sempurna jika kembali direnungkan, hanya saja, saya terbantu dengan kata-kata yang terlontar itu.

Kata manusia bebas, terinspirasi dari kata fitrah dimana manusia memang dilahirkan fitrah. Yang kedua menikmati masa tumbuh, dimana akan selalu muncul makna “menjadi” dalam segala proses kehidupan. Proses ini dalam istilah khusus adalah proses pembelajaran. Lebih dari itu, saya menikmatinya oleh sebab hanya itu yang saya miliki.

Pertanyaan kedua saya jawab dengan spontan sesuai dengan yang saya imajinasikan waktu itu. Tapi tidak saya beberkan. Mungkin pembaca lebih tertarik menjawabnya sendiri-sendiri, bukan?

Bisa jadi pertanyaan itu suatu saat bisa dialami orang lain, dengan bahasa yang sudah termodifikasi. Dan bisa jadi jika terjawab dengan tepat, sidang pembaca akan juga merasakan “lulus” dalam menjawab pertanyaan mendasar yang berkaitan dengan visi pribadi. Terutama dalam memanfaatkan kesempatan hidup.

Melalui tulisan ini, hendak saya utarakan imajinasi saya, dimana para pendidik, penyeleksi dan para orang tua, memikirkan ulang pertanyaan yang akan dilontarkan. Sebisa mungkin pertanyaan itu berkaitan dengan diri, agar yang menjawabnya tak lepas dari visi pribadinya. Terlebih untuk hidupnya di masa yang akan datang.