Menanam di Zaman Instan


Sebuah percakapan ringan pernah terjadi di sebuah halaman mesjid. Seorang penjaga mesjid bertanya kepada ibu tani yang tiap kali kembali dari ladang dan melewati mesjid selalu membawa hasil pertanian. "Panen terus bu?" tanya penjaga mesjid. Ibu tani hanya menjawab, "iya, kan nanam terus..." katanya.

Sepintas, percakapan itu biasa-biasa saja. Dari sekian banyak peristiwa, sidang pembaca mungkin pernah menyaksikan percakapan sesingkat itu. Terlebih di kampung-kampung dimana tegur sapa masih menjadi budaya.

Karena merasa biasa, kadang makna dari percakapan itu menjadi biasa. Berbeda saat kita mengoptimalkan otak kita sambil merenungkan makna dari yang biasa itu. Sesepele apapun, selalu tersimpan hikmah. Percakapan tadi contohnya.

Saat ditanya soal panen yang terus-terusan, ibu tani menjawab dengan tepat. Ia bisa panen terus karena terus menanam. Sebuah pesan tentang seseorang yang memanen "terus" oleh karena menanam "terus". Coba dibalik, siapapun yang menanam terus-terusan, berarti dia akan memanen terus-terusan pula. Sebuah logika sederhana yang memiliki nilai luhur, tetapi jarang diinsyafi.

Dalam kehidupan masyarakat kita yang semakin modern, kadang kita menganggap yang tradisional atau yang sudah menjadi ritual biasa, kuno dan pantas ditinggalkan. Kebanyakan dari kita mengharap banyak hasil, tetapi enggan berupaya. Kehidupan menjadi terbatasi antara Kehendak dan hasil, lupa pada syarat berupa upaya dan proses. Itulah kenapa kita layak menyebutnya zaman instan. Ingin cepat-cepat memanen enggan menanam. Sangat instan!

Memang, menanam saat ini tidak lagi dianggap penting, tidak juga modern. Orang lebih merasa "hidup" di era modern manakala mampu membeli, bukan membuat. Entah itu gadget atau bahan bumbu dapur sekalipun. Manusia model ini lebih nyaman bergantung kepada hasil yang dibuat orang lain. Lupa dengan kemampuannya, yang sebetulnya bisa juga membuat.

Jika memang cerita tadi bisa menginspirasi, berarti hari ini, besok dan seterusnya kita hendak membiasakan diri menanam, agar suatu saat kita memiliki banyak hal untuk kita panen. Bisa jadi, bukan kita saja yang memanen. Mungkin anak-cucu kita dan generasi berikutnya bisa memanennya juga.

Tetapi sebelum melakukan itu, sebaiknya kita juga menanam sesuatu yang mendesak dan perlu. Kita tanam dulu di hati kita masing-masing sebuah "kesadaran". Sadar betapa menanam adalah tindakan melestarikan. Sebuah upaya yang sesuai dengan pesan-pesan atau wahyu Tuhan. Dengan begitu, saat ke mesjid kita tidak saja menjaga kebersihan "rumah Tuhan", lebih-lebih kita jaga dan laksanakan pesan Tuhan. Bukankah itu yang disebut khilafah fi al ardh?

Ai Nurhidayat
Pegiat Komunitas

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »